Experiential Learning di Industri Pariwisata Indonesia

Sejak saya diminta untuk menjabat menjadi Sekjen AELI di medio 2016, hal pertama yang saya tanyakan kepada Ketua Umum AELI adalah bagaimana visi beliau mengenai Experiential Learning di Indonesia. Jawaban yang diberikan Ketum saat itu menguatkan saya untuk menerima amanah jabatan Sekjen ini.

Beliau menyatakan bahwa AELI harus mampu untuk mengibarkan bendera EL sebagai metode terkemuka dan terpercaya dalam pengembangan SDM Indonesia, dengan menguatkan peran dan pengaruh EL di berbagai sektor Industri seperti Pendidikan, Training dan tentu saja tidak lupa Pariwisata. Tulisan ini secara spesifik membahas mengenai peran Experiential Learning di Industri Pariwisata. _Bahasan mengenai peran EL di industri lain akan saya buat dalam tulisan yang berbeda_

Experiential Learning pertama kali masuk di Indonesia dalam bentuk program pengembangan Sumber Daya Manusia dengan model Outdoor Training. Model ini sangat _booming_ di medio 1990-an karena memberikan alternatif dari program training kelas pada umumnya saat itu. Model Outdoor Training ini diakui baik oleh penyelenggara (provider) dan peserta, memberikan dampak pembelajaran yang lebih signifikan dibandingkan pembelajaran kelas yang biasanya.

Program Experiential Learning dengan bentuk Outdoor Training ini menjanjikan aktivitas Experiential yang menggugah dan mampu memberikan insight pembelajaran tanpa perlu diberikan ceramah yang seringkali tidak didengarkan juga oleh peserta training. Pengalaman secara langsung ini tentu akan lebih berkesan bagi peserta sehingga pembelajaran akan menetap lebih lama dalam benak peserta ketimbang hanya mendengarkan saja. Manfaat ini lah yang membuat Outdoor Training populer dan menjadi pilihan program pengembangan SDM yang cukup diminati.

Pada tahuan 2000-an model pembelajaran yang menggunakan aktivitas luar ruang baik dengan Problem Solving games, Team Dynamic games, rope course serta kegiatan alam dan petualangan, mulai digunakan juga untuk program pengembangan SDM lain yang lebih ringan. Perusahaan, sekolah dan institusi lain yang menyelenggarakan kegiatan wisata bersama tahunan mulai melirik kegiatan ini karena menjanjikan nilai tambah selain refreshing yaitu tetap memiliki muatan untuk pengembangan bagi pesertanya.

Terbukanya peluang usaha ini membuat semakin banyak Provider Outdoor Training yang memberikan layanan pengembangan SDM baik dengan tujuan lebih serius untuk peningkatan skill karyawan maupun tujuan yang lebih “ringan” untuk meningkatkan semangat dan motivasi karyawan dalam bekerja. Dalam perkembangan para Provider ini menjual produknya dengan istilah program Outbound. _(note: perdebatan penggunaan istilah outbound tidak akan dibahas dalam tulisan ini)_

Program semacam ini tentu membutuhkan lokasi luar ruang untuk melaksanakan kegiatannya, lokasi wisata baik berupa resort, hotel, taman bermain, goa, sungai, adalah beberapa contoh pilihan lokasi kegiatan yang jamak digunakan. Dari penggunaan lokasi ini saja dapat terlihat secara jelas peran Experiential Learning Program khususnya Outdoor & Adventure Based Program (Outbound) memberikan dampak yang sangat besar bagi Industri Pariwisata Indonesia.

Kunjungan wisatawan di lokasi-lokasi tersebut salah satunya digerakkan oleh keberadaan program Outbound ini. Meskipun belum ada data resmi berapa sumbangsih kedatangan wisatawan karena program outbound ini, bermunculannya paket-paket outbound di hampir setiap lokasi wisata di Indonesia adalah bukti yang secara nyata dan jelas dapat dilihat besarnya pengaruh program Outbound dalam industri pariwisata Indonesia.

Untuk lebih mempertajam bahasan peran Experiential Learning di Industri Pariwisata, akan lebih baik bila kita merujuk definisi yang dibuat pemerintah tentang Pariwisata di Indonesia. Berdasarkan UU No 10 tahun 2009 tentang Kepariwisataan. Bidang Industri Pariwisata terbagi menjadi 13 yaitu.
1. Bidang Daya Tarik Wisata
2. Kawasan Wisata
3. Jasa Transportasi Wisata
4. Jasa Perjalanan Wisata
5. Jasa Makanan dan Minuman
6. Penyedia Akomodasi
7. Penyelenggara Kegiatan Hiburan dan Rekreasi
8. Penyelenggara Pertemuan, Perjalanan Insentif, Konferensi dan Pameran (Meeting, Incentives, Conferences & Exhibition)
9. Jasa Informasi Pariwisata
10. Jasa Konsultan Pariwisata
11. Jasa Pramuwisata
12. Wisata Tirta
13. Spa

Tiga Belas bidang Industri itulah yang menurut Pemerintah ada di Indonesia dan tidak ada Industri Experiential Learning, atau Outbound di pembagian bidang Industri Pariwisata tersebut. Lalu bila mengacu kepada pembagian bidang Industri Pariwisata tersebut, maka Experiential Learning masuk di bidang yang mana? Tulisan ini mencoba menjabarkan peran Experiential Learning dalam Bidang Industri tersebut.

Untuk memahami peran EL di Industri Pariwisata, kita perlu memahami terlebih dahulu apa itu Program Experiential Learning (EL). Secara umum Experiential Learning (EL) atau Pembelajaran Berbasis Pengalaman (PBP) adalah metode pembelajaran yang menekankan pada pengalaman yang diikuti dengan refleksi hasil pembelajaran yang didapat dari pengalaman tersebut. EL bukan semata-mata belajar dari pengalaman, tapi sebuah pembelajaran yang menggunakan pengalaman sebagai media belajar.

Pengalaman adalah faktor utama yang digunakan dalam Experiential Learning. Program EL adalah sebuah program pembelajaran yang menggunakan sebuah aktivitas tertentu yang dijadikan sebuah pengalaman untuk menjadi dasar pembelajaran. Provider EL dapat menggunakan daya tarik, atraksi dan lokasi wisata untuk dijadikan pengalaman sebagai media pembelajarannya. Hal ini tentu memberikan nilai tambah bagi industri pariwisata secara umum. Secara khusus peran EL di tiap bidang Industri Pariwisata kita bahas satu persatu.

Dari Tiga Belas industri pariwisata tersebut, EL hampir tidak memiliki hubungan dengan Jasa Transportasi, Makanan dan Minuman, dan Industri Spa selain bahwa peserta program EL tentu saja akan menggunakan jasa bidang-bidang usaha tersebut. Begitu pula dalam Bidang Informasi dan Konsultan Pariwisata, serta industri Spa.

Untuk bidang-bidang lain kaitannya cukup besar dan perlu dijabarkan secara lebih detail antara lain sebagai berikut:

1. Bidang Daya Tarik Wisata, Kawasan Wisata dan Jasa Tirta
Usaha Daya Tarik Wisata adalah Usaha Pengelolaan daya tarik wisata alam, daya tarik wisata budaya dan atau daya tarik wisata buatan/binaan manusia. Contoh dari Usaha Daya tarik Wisata ini meliputi Pengelolaan Pemandian air panas alami, Goa, peninggalan sejarah dan purbakala, museum, permukiman adat, objek ziarah dan wisata agro. Kawasan Wisata lebih kurang mirip dengan Daya Tarik Wisata namun lebih besar cakupannya. Sedangkan Jasa Tirta dapat disamakan dengan Usaha Daya Tarik Wisata bila dikaitkan dengan EL.

Peran Provider Experiential Learning dalam Usaha Daya Tarik Wisata ini tentu saja sangat jelas dan kuat. Provider EL dapat membuat Daya Tarik Wisata baru yang experiential, merancang sebuah Program yang membuat Daya Tarik Wisata lebih Experiential atau membuat sebuah Program EL di lokasi Daya Tarik Wisata. Pembuatan Via Ferrata di Gunung Parang, Purwakarta misalnya. Hal ini menjadi daya tarik wisata baru di gunung parang. Pembuatan sebuah wahana Flying Fox di sebuah pantai misalnya, tentu dapat menjadi sebuah Daya Tarik Wisata tersendiri di pantai tersebut sehingga akan membuat wisatawan tertarik untuk datang.

Provider EL dapat membuat Daya Tarik Wisata yang ada menjadi sebuah media pembelajaran yang menarik. Provider EL juga dapat menjadikan ciri khas dari tiap Daya Tarik Wisata yang ada untuk dijadikan sebuah Program EL sehingga mampu meningkatkan keunggulan daya tarik wisata tersebut. Sebagai contoh, sebuah provider EL dapat membuat program EL yang menggunakan arena anjungan di kawasan TMII, hal ini tentu saja akan meningatkan daya tarik wisata di TMII. Pembuatan Program EL dengan media bercocok tanam dan wisata agro lainnya juga memberikan nilai tambah bagi usaha daya tarik wisata Agro.

2. Jasa Perjalanan Wisata
Usaha jasa Perjalanan Wisata adalah usaha Penyelenggaraan Biro Perjalanan Wisata dan Agen Perjalanan Wisata.

Sekarang ini travel agent juga menjual outbound dalam paket wisatanya. Dari sini saja sudah terbukti bahwa EL sangat berperan dalam Industri Jasa Perjalanan Wisata. Namun lebih dari itu, Provider EL dapat memberikan pengalaman wisata yang berbeda dari wisata konvensional pada umumnya.

Provider Experiential Learning dapat membuat sebuah program EL yang menggunakan daya tarik dan atraksi wisata di lokasi wisata menjadi media pengalaman untuk pembelajaran. Dengan sebuah program EL, perjalanan wisata tidak hanya sekedar jalan-jalan dan melihat-lihat saja tapi lebih aktif terlibat dalam perjalanannya.

Menurut Kemenpar Terjadinya pergeseran orientasi pariwisata pada tahun 2017, dari wisata massal menuju wisata alternatif atau wisata minat khusus dengan pola wisata yang menekankan kepada aspek penghayatan dan penghargaan lebih terhadap aspek kelestarian alam, lingkungan dan budaya (enviromentally and cultural sensitives). Provider EL harus mampu mengambil peran lebih dalam pembuatan jasa Perjalanan wisata Eksperiensial ini (Experiential Tourism). Jadi tidak sekedar memindahkan games-games outbound ke lokasi-lokasi wisata.

3. Penyedia Akomodasi
Usaha Penyediaan Akomodasi adalah usaha penyediaan pelayanan penginapan untuk wisatawan yang dapat dilengkapi dengan pelayanan pariwisata lainnya. Contoh usaha bidang ini adalah usaha Hotel, Motel, Kondominium, Vila, Bumi Perkemahan, Pondok Wisata dan Rumah Wisata.

Experiential Learning memiliki andil sangat besar dalam bidang usaha ini karena Provider EL dalam melaksanakan programnya tentu membutuhkan Akomodasi bagi peserta programnya. Bayangkan bila dalam sekali program, tiap Provider EL membawa peserta sejumlah 100 orang, berapa banyak potensi pemasukan bagi Akomodasi Wisata yang diberikan oleh Provider EL. Anggota AELI ada sekitar 200 Provider, bila dalam satu bulan tiap Provider punya 4 program dengan peserta 100 orang tiap programnya, maka dalam setahun satu Provider memiliki 4.800 orang peserta. Dengan hitungan kasar ini AELI sudah memberikan lebih kurang 960.000 wisatawan yang menggunakan jasa Usaha Penyedia Akomodasi ini dalam satu tahun.

Provider EL juga seringkali bekerja sama dengan penyedia Akomodasi dengan membuat program EL yang secara khusus menggunakan arena Akomodasi tersebut sehingga dapat menjadi daya tarik wisata tersendiri bagi lokasi akomodasi yang dimaksud. Sudah jamak ditemui Hotel atau Villa yang juga menjual program Outbound atau membuat arena Rope Course untuk meningkatkan daya tarik wisata bagi akomodasinya.

7. Penyelenggara Kegiatan Hiburan dan Rekreasi
Usaha Penyelenggaraan Kegiatan Hiburan dan Rekreasi adalah usaha penyelenggaraan kegiatan berupa seni pertunjukkan, arena permainan, karaoke, serta kegiatan hiburan lain yang bertujuan untuk pariwisata. Yang termasuk jenis Usaha ini antara lain Gelanggang olahraga (bowling, bilyar, golf), gelanggang seni, rumah pijat, karaoke, jasa promotor, taman rekreasi, arena permainan dan wisata ekstrim.

Bila di lihat dari penjabaran tersebut, jenis yang memiliki kaitan erat dengan EL adalah Taman Rekreasi, Arena Permainan dan Wisata Ekstrim. Banyak Provider EL yang menggunakan Taman Rekreasi sebagai lokasi pelaksanaan Program EL nya. Beberapa Provider EL juga sudah mulai melirik penyediaan arena permainan seperti ATV, trampolin, dan wisata ekstrim seperti flying fox, canyoning, Via Ferrata, dan lain lain.

Peran Provider EL di bidang industri ini adalah dapat memberikan sebuah program yang memiliki aktivitas yang dapat menjadi kegiatan hiburan dan rekreasi.

8. Penyelenggara Pertemuan, Perjalanan Insentif, Konferensi dan Pameran (Meeting, Incentives, Conferences & Exhibition)
Bidang usaha ini dapat dibagi 4 jenis yaitu Pertemuan (Meeting), Perjalanan Insentif bagi karyawan (incentives), Pameran dan konferensi (Conference & Exhibition).

Provider EL memiliki peran penting dengan usaha jenis Meeting & Incentive. Saat ini sekitar 90% anggota AELI adalah provider EL yang berada di Bidang Usaha ini. Provider EL dapat membuat program EL yang memiliki nilai tambah serta pembelajaran yang dibuat secara menarik dalam berbagai Meeting dan Event perusahaan. Dengan balutan program EL, kick off meeting sebuah perusahaan akan dikemas secara lebih menarik sehingga informasi serta pembelajaran yang akan disampaikan dalam kick off meeting tersebut akan lebih dipahami oleh karyawan perusahaan. Provider EL akan membuat Kick Off Meeting tidak lagi hanya sekedar karyawan mendengarkan paparan satu arah dari Top Management yang pasti akan langusng dilupakan bila sudah keluar ruangan.

Begitu pula dengan event Employee Gathering misalnya, Provider EL dapat merangkai sebuah program yang unik, kreatif namun syarat makna pembelajaran yang dapat dikaitkan dengan pesan sponsor dari perusahaan seperti peningkatan Value, pembentukan budaya perusahaan, peningkatan Team Work dan lain lain.

Provider EL juga memiliki kompetensi untuk mengatur sumber daya program sehingga peserta meeting tidak perlu khawatir akan fasiltias yang diperlukan dalam program tersebut. Mulai dari peserta berangkat hingga peserta pulang Provider EL akan memikirkan dengan baik ketersediaan sarana dan prasarananya.

Begitu pula dengan jenis Usaha Perjalanan Insentif. Provider EL dapat membuat sebuah program EL dalam perjalanan wisata karyawan perusahaan sehingga perjalanan wisata tersebut tidak hanya sekedar jalan-jalan namun ada rangkaian kegiatan yang dapat dikaitkan dengan Corporate Goals & Objective Perusahaan.

Salah satu ciri khas dan keunggulan dari program EL adalah rasio antara jumlah peserta dan fasilitator. Tidak seperti perjalanan wisata pada umumnya yang hanya memiliki satu orang Tour Leader untuk satu rombongan, Program EL memiliki rasio ideal perbandingan peserta dan fasilitator program. Hal ini akan membuat perjalanan Insentif yang dibuat oleh Provider EL akan lebih berkesan kepada peserta karena pendampingan yang melekat dari fasilitator serta akan membuat perjalanan wisata lebih syarat makna pembelajaran sesuai harapan perusahaan.

Dan satu hal lagi yang paling penting, dengan pelibatan fasilitator dengan jumlah banyak akan semakin membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat.

11. Jasa Pramuwisata
Usaha Jasa Pramusiwata adalah usaha penyediaan dan atau pengorganisasian tenaga pemandu wisata untuk memenuhi kebutuhan wisatawan dan atau kebutuhan biro perjalanan wisata.

Dalam Kepmenakertans No 329 tahun 2011 tentang SKKNI Pemandu Outbound / Fasilitator EL, Profesi Pemandu Outbound/Fasel ini masuk ke dalam kategori Pemandu Wisata. Seperti hal nya pemandu Gunung, Pemandu Goa, Pemandu Museum dan lain lain. Terlepas dari polemik kenapa Profesi ini berada di bawah jenis Usaha Pramuwisata, namun jelas bahwa banyak sekali Fasilitator EL atau Pemandu Outbound dalam industri Pariwisata Indonesia.

Hingga saat ini AELI telah memiliki lebih dari 2000 orang Anggota Perorangan yang sebagian besar berprofesi sebagai Pemandu Outbound. Hingga saat ini sudah ada lebih kurang 500 orang yang telah melakukan Uji Kompetensi Pemandu Outbound dan mendapatkan Sertifikat Profesi Pemandu Outbound/ Fasilitator EL.

Pemandu Outbound memiliki kompetensi unik dibandingkan pemandu wisata lain. Pemandu Outbound/Fasel dapat membawakan program EL dengan menjadikan daya tarik, atraksi, lokasi dan kegiatan wisata lain menjadi aktivitas Experiential yang seru dan menarik serta memiliki nilai pembelajaran bagi peserta.

Dengan banyaknya kaitan dan nilai tambah yang diberikan Experiential Learning dalam Industri Pariwisata di Indonesia ini maka peran EL mana lagi yang kita nafikkan?

Dengan peran EL dalam industri pariwisata ini, tentu sebuah hal yang wajar bila para pelaku EL di Indonesia berharap ada satu bidang khusus di Industri Pariwisata yang membawahi jenis usaha ini. Namun untuk memenuhi harapan ini tentu dibutuhkan kajian yang lebih mendalam tentang seperti apakah jenis Usaha EL ini. Apakah memang berbeda sama sekali dengan bidang usaha Pariwisata yang sudah ada, sehingga Provider EL harus memiliki satu Bidang atau sub Bidang tersendiri. Atau lebih baik seperti sekarang dimana Provider EL dapat masuk di berbagai jenis bidang usaha pariwisata yang lain? Mungkin teman-teman penggiat EL yang lain dapat memberikan pendapat.

Salam

Belum ada komentar

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

Sekretariat Dewan Pengurus Pusat
Jalan Simpang Tiga Kalibata No. 01.A
Duren Tiga - Jakarta Selatan 12830 - INDONESIA
Telepon [62-21] 2208-3446

Login

atau    

Lupa detail akun ?

Create Account