4 Jenis Penerapan Experiential Learning

Beberapa hari yang lewat, ada pertanyaan menarik yang diajukan oleh seorang rekan Trainer. Dia bertanya kenapa program Team Building yang saya fasilitasi dilakukan di dalam kelas dengan peserta duduk manis di meja bundar sambil seperti sedang mendengarkan materi Training? Kawan ini menanyakan lebih lanjut klaim yang sering saya sampaikan mengenai program Team Building adalah turunan dari program Experiential Learning, tapi kenapa tidak dilakukan di outdoor atau dengan kegiatan adventure sebagaimana program ‘Outbound’ pada umumnya?

Perlu diketahui bahwa sepemahaman kawan saya ini, Experiential Learning itu ya hanya Outbound.

Untuk menjawab pertanyaan itu saya merasa perlu menjelaskan mengenai bentuk-bentuk penerapan metode Experiential Learning. Ini juga sekaligus menjawab kawan-kawan AELI yang sering bertanya mengenai apa saja penerapan Experiential Learning.

Saya mencoba menerangkan penerapan metode EL ke dalam 4 kategori sebagaimana yang dibuat oleh AEE (Asociation of Experiential Education).

Outdoor and Adventure Education Program

Penerapan EL dengan memberikan pengalaman berupa aktivitas petualangan luar ruang untuk media belajar peserta adalah definisi dari Outdoor & Adventure Education Program (OAEP). Bentuk terapan metode EL model OAEP ini yang paling populer dan dapat dikatakan asal muasal populer nya metode EL.

Bagi penggiat EL di Indonesia pasti khatam benar dengan kisah Kurt Hahn yang membuat program pembentukan karakter para pemuda dengan melibatkan mereka dalam sebuah petualangan. Beliau kemudian mendirikan Expeditionary Learning Outward Bound School (sekarang Outward Bound) yang kemudian juga berdiri di Indonesia dan konon katanya merupakan cikal bakal muncul dan berkembangnya ‘Outbound’ di Indonesia.

Petualangan diyakini merupakan sebuah bentuk pengalaman yang sangat kuat untuk memberikan kesan kepada peserta belajar karena peserta dapat langsung mengetahui kekuatan dan kelemahan dirinya sehingga dapat membentuk karakternya. The Mountain Can Speaks for Itself.

Aktivitas petualangan alam bebas dapat ‘berbicara’ untuk dirinya sendiri. Pembelajar dapat langsung mengambil makna pembelajaran dari pengalaman melakukan kegiatan petualangan tersebut. Keyakinan bahwa alam adalah guru yang terbaik dalam kehidupan, dan karakter asli seseorang akan diketahui saat berada di alam bebas adalah hal yang mendasari Outdoor and Adventure Education Program (OAEP) ini.

Berdasarkan uraian tersebut, penggunaan media petualangan alam bebas adalah ciri pertama dari OAEP ini.

Ciri yang kedua dari OAEP adalah tujuan yang lebih berfsifat pengembangan diri (self development) baik itu untuk membentuk karakter yang tangguh, membentuk mental seorang pemimpin, menanamkan rasa toleransi, kepedulian terhadap sesama dan alam sekitar serta tujuan-tujuan pengembangan diri lainnya.

Sedangkan ciri yang ketiga adalah peserta program dapat berasal dari beragam latar belakang yang berbeda. Dapat dikatakan OAEP ini berbentuk Public Program, dimana semua orang dari berbagai latar belakang yang berbeda dapat mendaftar dan mengikuti program ini secara bersama-sama.

Experience Based Training and Development

Bentuk turunan EL kedua menurut AEE, dan istilah ini digunakan juga oleh Simon Priest, adalah Experience Based Training and Development (EBTD). Di beberapa negara lain dikenal dengan istilan Outdoor Management Development (OMD) atau Corporate Adventure Training (CAT). Di Indonesia pernah ada yang namanya Outbound Management Training (OMT).

Ciri yang pertama dari EBTD ini adalah digunakannya pengalaman ‘buatan’ selain dari petualangan alam bebas sebagai Aktivitas Pembelajaran (Experiential Activity). Beragam Aktivitas Experiential lain yang dapat diberikan dalam program Experiential Learning antara lain simulasi, tantangan tali (rope course), games Team Building, problem solving games, studi kasus, board game, real work experience, dan segala bentuk Aktivitas Experiential lain yang dapat memberikan insight pembelajaran kepada peserta.

Yang membedakan dari OAEP adalah bentuk pengalam dalam program EBTD tidak hanya aktivitas petualangan tapi juga berbagai Aktivitas Experiential ‘buatan’ lainnya.

Ciri kedua dari EBTD ini adalah tujuannya untuk pengembangan diri seseorang dikaitkan dengan konteks organisasi/ perusahaan dimana peserta berada. Ada pesan sponsor dari perusahaan yang menjadi tujuan dari program EBTD ini. Ada harapan pengembangan organisasi (Organizational Development) dengan pelaksanaan program EBTD ini. Berbeda dengan OAEP yg tujuannya hanya untuk pengembangan diri pribadi sendiri.

Pengembangan kepemimpinan seorang manajer atau supervisor, peningkatan engagement karyawan, meningkatkan motivasi dan semangat kerja serta tujuan-tujuan pesan sponsor dari perusahaan lain adalah ciri kedua dari program EBTD ini.

Ciri ketiga adalah peserta yang berasal dari latar belakang perusahaan yang sama. Peserta program dapat berasal dari unit kerja yang sama, atau dari berbagai unit kerja yang berbeda tapi dalam level jabatan yang sama, bisa juga peserta program EBTD ini adalah seluruh karyawan perusahaan dari level atas hingga level paling bawah.

Berdasarkan hal ini EBTD biasanya berupa Private Program atau program yang dibuat secara khusus untuk klien atau peserta tertentu. Akan aneh bila ada karyawan dari perusahaan B ikut program yang dibuat khusus untuk karyawan perusahaan A. Dia bisa dicurigai sebagai penyusup lalu dihajar beramai-ramai oleh peserta yang lain.

School And College Program

Bentuk penerapan Experiential Learning yang ketiga adalah penerapan EL di Sekolah dan Kampus. Experiential Learning dijadikan metode pembelajaran untuk peserta didik di lembaga pendidikan formal.

Di Indonesia contoh penerapan School And College Program (SACP) bagi siswa sekolah bisa dilihat di penerapan Kurikulum 2013, PKL, dan Sekolah Alam. Sedangkan pada mahasiswa umumnya diterapkan pada praktek Magang, Praktikum atau KKN.

Ciri pertama dari penerapan EL untuk Sekolah dan Kampus ini adalah bentuk Aktivitas Experiential yang diberikan bisa berupa petualangan ataupun pengalaman lain yang menunjang pembelajaran peserta didik.

Pembeda utama dari terapan EL untuk School and College Program (SACP) ini dibandingkan dengan OAEP dan EBTD adalah program dibuat dengan tujuan menunjang pencapaian akademik peserta belajar dalam lingkup lembaga pendidikan. Baik siswa di sekolah maupun mahasiswa di perguruan tinggi. Ini ciri yang kedua.

Sedangkan ciri yang ketiga adalah peserta program merupakan peserta didik dari lembaga pendidikan yang bersangkutan. Berbeda dengan OAEP yang pesertanya dari umum dan EBTD yang pesertanya dari sebuah perusahaan tertentu.

Wilderness and Adventure Therapy Program

Bentuk penerapan Experiential Learning yang keempat adalah Wilderness and Adventure Therapy Program (WATP). WATP jg acapkali disebut Wilderness Therapy Program atau Adventure Therapy Program.

Ciri pertama dari WATP ini adalah sama seperti OAEP yang menggunakan petualangan alam bebas sebagai pengalaman yang dapat memicu pembelajaran dalam diri peserta. Sedikit berbeda dari OAEP yang percaya Alam adalah guru yang paling baik untuk mengembangkan diri, WATP meyakini bahwa alam dan petualangan adalah guru yang paling baik untum menyembuhkan segala luka.

Tujuan dari program WATP adalah sebagai media terapi untuk ‘menyembuhkan’ perilaku-perilaku tertentu. Terapi bicara, menghadapi phobia, kesulitan bersosialisasi, terapi hubungan pasangan adalah beberapa contoh tujuan dari WATP ini. Ini adalah ciri kedua dari WATP.

Sedangkan ciri yang ketiga dari WATP adalah peserta berasal dari khalayak umum namun khusus hanya bagi yang memiliki gangguan-gangguan sesuai dengan program WATP yang ditawarkan. Dapat dikatakan bentuk dari WATP ini Public Program.

Itu adalah penjabaran dari 4 jenis penerapan Experiential Learning menurut AEE. Bila disimpulkan berdasarkan tiga ciri yang dijabarkan di masing-masing program maka sebagai berikut:

1. Bentuk Pengalaman
– OAEP: Outdoor & Adventure Only.
– EBTD: Outdoor, Adventures and Others.
– SACP: Outdoor, Adventure and Others
-WATP: Outdoor and Adventure Only.

2. Tujuan program
– OAEP: Self Development
– EBTD: People & Organizational Development
– SACP: Student Development
– WATP: Self Healing

3. Peserta Program
– OAEP: Public
– EBTD: Private (Employee)
– SACP: Private (Student)
– WATP: Public

Dengan penjabaran 4 jenis penerapan Experiential Learning ini diharapkan dapat membantu pengguna jasa Provider EL untuk menentukan Provider yang paling tepat sesuai kebutuhannya masing-masing.

Bagi Provider EL anggota AELI, pengkategorian ini juga dapat digunakan untuk menentukan kategori layanannya sehingga dapat memberikan program terbaik bagi target peserta yang disasar.

Semoga tulisan singkat mengenai 4 Jenis Penerapan Experiential Learning ini dapat bermanfaat bagi perkembangan Experiential Learning di Indonesia.

 

Salam EL

Sekjen DPP AELI 2016-2019

Gigih Gesang

1 Komentar
  1. Andriy 4 bulan lalu

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

Sekretariat Dewan Pengurus Pusat
Jalan Simpang Tiga Kalibata No. 01.A
Duren Tiga - Jakarta Selatan 12830 - INDONESIA
Telepon [62-21] 2208-3446

Login

atau    

Lupa detail akun ?

Create Account